Scratch, Suplemen Belajar di Kala Pandemi

0
63

Pukul 8 Pagi, tumpukan baju belum dicuci,

piring dipojokkan masih ada bekas nasi, lantai kotor jadi saksi,

pemberitahuan notifikasi, tagihan tugas bu guru hari ini, untuk ananda lewati masa pandemi,

Harus hati ingin menemani, apa maksud daya pekerjaan lain tidak mau diberi janji, membelah diri tak maksimal jadi solusi.

Adek duduk sendiri, siap laptop, dasi dan rambut disisir rapi, menatap bu guru dari balik sisi, bicara sana sini, adik pusingnya sendiri, tak paham arti, tapi tugas tak mau kompromi, hanya bisa meratapi, kapan ini diakhiri.

Sekelumit kisah episode baru pendidikan Indonesia kini, belajar yang belum lama dinikmati, harus adaptasi kembali melawan pandemi. Kita yang dulu asik bersama, sekarang asik sendiri. Kita yang dulu bisa saling membantu, sekarang harus menderita sendiri. Kita yang dulu bersua, sekarang asik menadah sepi.

Sebahagia-bahagianya siswa, pasti akan lebih bahagia bila bisa berkumpul bersama teman menghadapi tantangan di setiap pelajaran, susah senang ditanggung bersama. Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika, kebiasaan lama tercincang disiksa alam, semua kegiatan, kelaparan bertambah, uang dalam dompet berkurang. Covid-19 benar-benar membuat rencana hancur, perekonomian tidak stabil, disorganisasi dan lain-lain. Lagi masyarakat dengan pola pikir yang mengancam keselamatan makhluk lainnya selalu terlihat di mana pun kita berada, sekolah pun ditutup, wajah pun cemberut, apalah daya?

Covid-19 menjelma bayangan suram bagi dunia pendidikan Indonesia. Pembelajaran tatap muka yang terdekat kini menjadi ancaman nyata. Suasana yang begitu damai di rumah membuat siswa tak merasa bersekolah. Tentu saja ini bukan menjadi hal yang sulit bagi orang yang biasa belajar mandiri. Namun menjadi sebuah neraka, bagi mereka yang terbiasa belajar bersama, terlebih bagi mereka yang tidak memiliki kuota. Menurut Agus Nana Nuryana, MMPD, yang dikutip dari kabar-priangan.com pada tanggal 23 Agustus 2020, banyak masalah yang berhubungan di masa pandemi ini antara lain, penguasaan teknologi yang rendah, keterbatasan sarana-prasarana, jaringan internet, dan juga biaya.

Teringat beberapa pekan lalu, ayah ajakanku ke sebuah sekolah di pinggiran kota, terkejut bahwa guru-guru di sana masih belum menguasai teknologi dasar dalam mengajar jarak jauh. Sekelumit bukti nyata, bila kita masih gagap gempita, menghadapi disrupsi dunia pendidikan yang datang tiba-tiba.

Duduk termenung, saksikan pemandangan yang kurang menyenangkan di setiap pagi, adik perempuan tak mengerti apa yang sedang dipelajari, selagi ibu entah kapan bisa tenang menemani. Aku jadi teringat sesuatu. Ketika sedang sibuk berbincang mengenai komunitas bersama ayah, mau jadi apa dan ke depan mau bagaimana? Hingga suatu saat kawan menyarankan sebuah aplikasi web yang harus saya coba. Scratch namanya, sebuah aplikasi web yang dibuat oleh Lifelong Kindergarten Group yang akhirnya bertanggung jawab untuk saya. Saya bekerja dengan cara kerja Scratch yang luas dan tak terbatas. Bahkan orang tua kawan saya membuat Scratch sebagai media pembelajaran dengan cara membuat quiz dan semacamnya.

Tidak bisa dipungkiri, teknologi di masa depan —AI dan robotika— akan memegang peranan penting bagi kehidupan manusia. Menurut Chaerul Tanjung (2008) yang dilansir dari kompasiana.com yang diakses pada tanggal 25 Agustus 2020, menggunakan sumber data World Economic Forum, terdapat sekitar lima juta pekerjaan akan hilang dalam rentan waktu lima tahun pada akhir 2020. yaitu, perkantoran dan administrasi, manufaktur dan produksi , kontruksi dan tambang. Pekerjaan tersebut akan tergantikan dengan pekerjaan baru seperti, bisnis dan finansial, manajemen, komputer dan matematika.

Teknologi pentingnya tak bisa dipungkiri, akan sangat baik jika dikenalkan sejak dini. Dan kenyataannya, masih sedikit sekolah yang memberikan pendidikan yang berkaitan dengan teknologi informasi (TI). Menurut Badan Pusat Statistik, dilansir dari situs bps.go.id yang diakses pada tanggal 27 Agustus 2020, dari 4014 sekolah yang terkenal di 34 provinsi di semua jenjang, ada sekitar 10,10% guru yang berkualifikasi dalam mengajar bidang TIK. Bila tidak menguasai teknologi, daya saing sebagai SDM berkualitas Indonesia kurang sempurna. Dari sini terkadang saya bertanya-tanya, bagaimana cara menembus pendidikan teknologi yang sudah kita lupa?

Merenung tanpa aksi nyata akan sia-sia, kucoba dalami Scratch bersama dunia maya. Selang berapa lama, aku coba pada adik tercinta yang masih enam tahun usianya. Antusias terlihat dari binar matanya ketika saya minta untuk membuat sendiri video tanpa interaksi. Terkejut melihat dia mengutak-atik dengan gembiranya. Bermodal sedikit tanya, dia mampu membuat video interaktif yang berisi video dengan suara rekaman suaranya sendiri. Itu sebuah lompatan yang istimewa. Selanjutnya ia menerapkan logika yang ia dapat dalam berbagai negosiasi yang mengacu pada permintaan hubungan sebab-akibat. Tak menyangka dia sejauh ini, perhatian orang tua harus mulai ikut mendampingi.

     Scratch merupakan metode yang berkembang untuk digunakan sebagai media pembelajaran berbasis teknologi. Memang tidak terlihat seperti membuat robot atau semacamnya, Scratch   menjelaskan bagaimana logika dalam membuat coding. Sama halnya bila kita bermain dengan matematika, kita harus bisa membuat langkah demi langkah atau dengan metode yang kita buat sendiri. Scratch yang bisa diintegrasikan dalam media pembelajaran MIPA atau sejenisnya, sebagai solusi pembelajaran di tengah pendemi yang itu-itu saja.

Secara sederhana, Scratch digambarkan sebagai sebuah kota. Kita yang menjadi wali kotanya. Kita bisa mengatur segala sesuatu yang kita mau dan bisa. Kita ingin gunung besar, gedung pencakar langit, hingga bandara penerbangan antariksa? Kita bisa membangun segalanya. Ketika Proses Pembangunan Pasti ADA imaji, ADA Proses s tep by step ATAU terobosan lain. Nah, seperti inilah cara kerja Scratch . Scratch ingin kita mengombinasikan pemikiran, menyempurnakan, dan cara kerja agar sesuai dengan dunia kita. Seperti matematika, bila ingin mudah kita harus berpikir kreatif dan berlogika dengan teratur. Hal ini berlaku untuk fisika bahkan bahasa Inggris.

Berangkat dari potensi ini, saya coba mengenalkan Scratch di lingkungan tempat tinggal, sebagai solusi pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan sekaligus mengenalkan teknologi sejak dini. Bermula dari saudara terdekat, saya mencoba mengintegrasikan Scratch dengan pembelajaran usia mereka. Contohnya saat mereka belajar bahasa Inggris, saya buatkan quiz bahasa Inggris. Begitu juga untuk tugas matematika. Mereka sempat merengek, tak nyaman disuruh belajar. Sampai batas waktu tertentu mereka bosan, mulai nyaman, hingga ketagihan. Tidak hanya ilmu mapel , Menuru Arip Febrianto dilansir dari core.ac.uk diakses pada tanggal 27 Agustus 2020, dalam proses pendidikan agama Islam, Scratchjuga bisa membuat pembelajaran agama Islam menjadi lebih antusias, kreatif, dan kolaboratif. Mulai dari sini, saya terpikir untuk mengembangkan komunitas belajar Scratch sebagai alternatif pembelajaran yang menyenangkan. Bermula dari hal kecil berharap membawa solusi positif bagi lingkungan sekitar khususnya dalam kesulitan belajar selama pandemi.

Dari pengalaman yang sudah saya aplikasikan ke saudara dan saudara, saya yakin anak-anak yang bisa bahagia dengan pengalaman belajar yang bisa dikreasikan sendiri sambil bermain. Pembelajaran lebih dekat dan menyenangkan. Belajar membuat masyarakat Indonesia bisa belajar apapun, kapanpun, dan dengan cara apapun. Scratch bisa sebagai salah satu suplemen kegiatan pembelajaran yang efektif, bersama materi kurikulum sekolah sebagai dekorasi yang mewarnai keindahannya. Jika berhasil, bukan tidak mungkin hal ini menjadi salah satu solusi kecil untuk Indonesia yang menciptakan generasi muda dan SDM yang berkualitas.

WISHNU MUFSLIH HANIF, 12 IPA A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here