MUTIARA HADITS 29 Mei 2020: KEUTAMAAN PUASA 6 HARI DIBULAN SYAWWAL

0
39

Oleh: Saifuddin Yahya, Lc

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Pelajaran yang dapat diambil dari hadits di atas:
1. Anjuran jika telah menuntaskan amal kebaikan untuk segera melakukan amal kebaikan yang lain. Hal ini selaras dengan Firman Allah SWT:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ
: “ Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. QS Al Insyirah:7
2. Anjuran untuk melakukan puasa 6 hari dibulan syawwal. Ibadah puasa ini bisa dimulai untuk dikerjakan pada tanggal 2 syawwal sampai akhir bulan tersebut. karena tanggal 1 syawwal adalah Hari Raya umat islam yang mana pada hari tersebut umat islam dilarang untuk melakukan ibadah berpuasa, sebagaimana diterangkan oleh riwayat berikut. Dari Abu Sa’id Al Khudri –radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ.
: “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada dua hari yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.” (HR. Muslim)
Karena konteks hadist tentang anjuran puasa 6 hari dibulan syawaal itu umum maka puasa syawwal bisa dikerjakan secara berurutan atau tidak berurutan.

Sedangkan untuk pelaksanaannya khusus bagi orang yang masih mempunyai hutang puasa Ramadhan baik disebabkan sakit, safar, haid, nifas atau sebab lainnya, apakah ia harus mengqadha puasa Ramadhan terlebih dulu ataukah diperbolehkan baginya untuk mengerjakan puasa syawwal terlebih dahulu sebelum mulunasi hutang puasa Ramadhan maka untuk permasalahan ini para ulama berbeda pendapat dalam beberapa pandangan:

a. Menurut madzhab Hanafi : boleh melakukan puasa Sunnah syawwal meskipun ia mempunyai hutang puasa Ramadhan. Menurut mereka bahwa waktu mengqodho puasa Ramadhan sifatnya wajib ‘ala at -tarakhi yaitu wajib yang pelaksanaan waktunya sangat panjang dan longgar (11 bulan) bisa dimulai dari bulan syawwal sampai bulan sya’ban tahun berikutnya. Sesuai dengan keumuman firman Allah SWT:
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“dan barang siapa yang sakit dan berada dalam perjalan (lalu dia berbuka) maka dia (harus menggati puasa tersebut) pada hari-hari lainnya” (QS. Albaqarah: 185)
Ditambah dengan hadits Aisyah ra dalam penuturannya bahwa:
كان يكون عليّ الصوم من رمضان، فما أستطيع أن أقضيه إلا في شعبان
: “Saya pernah punya hutang puasa ramadhan dan saya belum melunasinya kecuali di bulan Sya’ban” (HR. Bukhari)
Dari riwayat diatas rasanya mustahil bagi Ibunda ‘Aisyah RA ketika beliau melunasi hutang puasa Ramadhan pada bulan sya’ban beliau tidak mengerjakan puasa-puasa sunnah selama satu tahun seperti puasa syawwal, ‘arafah, ‘asyura, yaumul bidh, senin kamis dan sebagainya.

b. Menurut madzhab maliki dan syafi’i: boleh tapi agak kurang disukai (yajuzu ma’al karohah). Alasannya sederhana yaitu tidak etis jika mengakhirkan ibadah wajib dan mendahukukan ibadah Sunnah. Padahal seharusnya ia lebih memprioritaskan ibadah wajib sebelum melaksanankan ibadah Sunnah.

c. Menurut madzhab hambali: madzhab ini mempunyai dua riwayat.
1. Boleh melakukan puasa syawwal terlebih dahulu sebelum melakukan qodha ramadhan
2. Tidak boleh melakukannya.
Hal ini disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni jilid 3 hal 86
Alasan ketidak bolehan melakukan puasa syawwal sebelum qadha Ramadhan menurut madzhab ini adalah:
Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Abu Hurairah:
من أدرك رمضان وعليه من رمضان شيء لم يقضه لم يتقبل منه، ومن صام تطوعا وعليه من رمضان شيء لم يقضه فإنه لا يتقبل منه حتى يصومه
: “ Siapa yang mendapati Ramadhan dan dia masih mempunyai (hutang) kewajiban berpuasa darinya yang belum dia penuhi maka tidak diterima amalan puasanya, dan barang siapa yang berpuasa sunnah sedangkan dia masih mempunyai hutang puasa ramadhan yang belum dilunasi maka tidak diterima puasa sunnahnya.” (HR. Ahmad)

Meskipun sebagian ulama melemahkan hadist diatas karena didalamnya terdapat rawi yang bernama Ibnu Lahi’ah.

Didalam riwayat yang lain Said bin Jubair pernah ditanya oleh seseorang apakah dia boleh berpuasa sunnah di bulan Dzulhijjah padahal dia masih menanggung hutang puasa wajib, dijawab oleh Said bin Jubair:
يبدأ بالفريضة
“(hendaknya) dia memulai dari yang wajib”.

Dari pemaparan pendapat para ulama diatas maka alangkah bagusnya melihat kondisi kita masing-masing.

Jika kita hanya memiliki hutang puasa Ramadhan satu atau dua hari saja maka alangkah baiknya mendahulukan qadha puasa Ramadhan. Hal ini senada dengan pendapat madzhab maliki dan syafi’i

Akan tetapi ketika kita memiliki banyak hutang puasa Ramadhan dan jika kita mengqodho terlebih dahulu takut kita tidak bisa melaksanakan puasa 6 hari dibulan syawwal, maka kita dahulukan puasa sunnah 6 hari dibulan syawwal. hal ini juga selaras dengan pendapat madzhab Hanafi

3. Keutamaan bagi orang yang melaksanakan puasa Ramadhan dan puasa 6 hari dibulan syawwal ia mendapatkan pahala puasa selama 1 tahun.
4. Dengan mengerjakan puasa dibulan syawwal potensi diterimanya ibadah puasa Ramadhan kita sangat besar. Ibnu Rajab Al Hambali berkata:
أن معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده كما قال بعضهم : ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة و عدم قبولها
“ Bahwa kembali melakukan puasa setelah puasa Ramadhan, itu adalah tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena Allah jika menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik untuk melakukan amalan shalih setelahnya. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, ‘Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh karena itu, siapa yang melakukan kebaikan lantas diikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan yang pertama diterima. Sedangkan yang melakukan kebaikan lantas setelahnya malah ada kejelekan, maka itu tanda tertolaknya kebaikan tersebut dan tanda tidak diterimanya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 388).

?????
Ayat Alquran & Hadist yang berkaitan dengan tema diatas:

1. Satu amal kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat

مَن جَاءَ بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ
: “ Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya ”. QS Al An’am:160

2. Cinta Allah bersama orang-orang yang gemar melakukan amal-amal sunnah
… وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
Allah Ta’ala berfirman (dalam hadist qudsi) : “ … Dan Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya “ HR Bukhari.

3. Niat puasa Sunnah bisa dilakukan pada pagi hari
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ».
Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuiku pada suatu hari lantas beliau berkata, “Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan?” Kami pun menjawab, “Tidak ada.” Beliau pun berkata, “Kalau begitu saya puasa saja sejak sekarang.” (HR. Muslim no. 1154)

والله أعلم بالصواب
Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh.
Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin
Hanya Allah-lah yang memberi taufik dan hidayah…
?????
•┈◎❅❀❦?❦❀❅◎┈•

? BIDANG DAKWAH
PONDOK PESANTREN TAHFIDZ ALQURAN DARUL FIKRI SIDOARJO

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here