Hiro Dafi, Kenalkan Budaya K3 dalam Selimut Ukhuwah

0
41
Sumber gambar: www.rencanamu.id/

Oleh: Sultan Syahputra Yulianto

Dunia telah memasuki fase 4.0. Fase di mana dunia mulai menerapkan konsep otomatisasi yang dilakukan oleh mesin tanpa memerlukan tenaga manusia dalam pengaplikasiannya. Fase tersebut disebut dengan era revolusi industri 4.0. Di era ini, hanya segelintir pemuda-pemudi terpilih yang berkualitas, baik secara akademis maupun non-akademis yang dapat bertahan. Pemuda-pemudi yang bertahan, haruslah melalui tempaan pendidikan terbaik, salah satunya melalui pondok pesantren. Mengutip perkataan presiden keempat Indonesia (dalam Syifa’I, dkk: 2018), Dr. K. H. Abdurrahman Wahid, pesantren diartikan sebagai suatu tempat yang dihuni oleh para santri sedangkan kata pondok berarti asrama atau hotel. Menurut Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas’ud (dalam hefamandiri.blogspot.com yang diakses pada tanggal 15 Januari 2020) pondok pesantren berasal dari kata “santri” yang berarti orang yang mencari ilmu agama. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pondok pesantren merupakan salah satu pendidikan yang mencampurkan bidang akademis dengan kegiatan keagamaan. Setiap pesantren pun memiliki ciri khas yang berbeda-beda, entah menonjol dalam bidang tahfidz, maupun dalam bidang lainnya. Keseharian di tiap pesantren pun berbeda-beda. Ada yang mayoritas kegiatannya dipenuhi dengan keagamaan, ada juga yang perbandingan antara kegiatan kegamaan dengan non-keagamaannya seimbang. Oleh karena kompleksnya kegiatan sehari-hari di pesantren, timbul berbagai problematika yang berkaitan dengan keamanan serta kesehatan siswa dalam setiap kegiataannya. Problem tersebut diantaranya adalah perusakan sarana prasarana pondok, cidera dan kekerasan yang terjadi di kalangan siswa, bullying dalam bentuk verbal maupun non-verbal, persebaran penyakit, serta maraknya kasus kehilangan dalam bentuk barang ataupun non-barang.

Baca juga: Kenalkan Program Hiro Dafi, Sultan Diganjar Juara Esai Tingkat Provinsi

Pondok Pesantren Tahfizh Alquran (PPTQ) Darul Fikri Sidoarjo adalah salah satu lembaga pendidikan modern yang  memadukan kekuatan prestasi akademik, karakter (akhlak dan life skill), dan hafalan Alquran. Perpaduan yang dapat diyakini bisa melahirkan calon ulama dan pemimpin terbaik, berkarakter, hafizh Alquran, memiliki keahlian terbaik di bidang masing-masing, serta bervisi global. Walaupun demikian, tetap saja terjadi problematika yang umumnya dialami pesantren-pesantren lain. Beberapa kasus yang marak terjadi di lingkungan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Darul Fikri Sidoarjo antara lain siswa kabur dari pondok pada saat Sabtu malam, kasus kehilangan, serta menyebar luasnya penyakit di kalangan siswa. Oleh karena itu, dibuatlah program Hirosah Darul Fikri (HIRO DAFI) yang bertujuan untuk mengawasi serta mengatasi berbagai problematika yang akan atau mungkin terjadi di lingkungan pondok pesantren. HIRO merupakan kependekan dari kata hirosah yang berasal dari Bahasa Arab “Harish” yang artinya penjaga. Jadi hirosah adalah seseorang ataupun sekelompok orang yang menjaga suatu tempat, dari bahaya ataupun hal lainnya. Selain dalam Bahasa Arab, HIRO merupaka pelesetan kata HERO yang berarti pahlawan. Jadi harapannya HIRO DAFI dapat menjadi pahlawan yang dapat menyelamatkan siswa-siswa Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Darul Fikri dari kecelakaan ataupun penyakit yang dapat menyerang kesehatan.

Sebenarnya, apa itu HIRO DAFI? Kenapa kok dibentuk? Bagaimana cara kerjanya? HIRO DAFI merupakan kegiatan pekanan siswa Darul Fikri yang ditugaskan untuk mengecek serta memastikan lingkungan pondok aman dan nyaman. Para siswa ditugaskan berjaga saat Sabtu malam dan dibagi menjadi tiga pos keamanan.

Pos satu berjaga di sekitar gerbang dan gardu listrik. Pos ini terdiri dari 3 siswa dan 1 guru. siswa yang berjaga di pos ini bertugas untuk memastikan bahwa gardu listrik berfungsi dengan baik, dan memastikan gerbang depan aman dari segala gangguan eksternal maupun internal.

Pos dua ditempatkan di sekitar belakang gedung pondok pesantren. Sebanyak 4 siswa dan 2 guru berjaga di pos ini. Demi menjaga keselamatan siswa lainnya, siswa yang berjaga di pos ini bertugas untuk memastikan bahwa tidak ada siswa yang berkeliaran di daerah belakang gedung pondok dikarenakan banyaknya benda-benda berbahaya seperti balok kayu, seng, paku, dan bahan bangunan lainnya berserakan di daerah tersebut mengingat pondok yang masih dalam tahap renovasi.

Dan yang terakhir pos tiga. Pos ini ditempatkan di sekitar daerah kantin, pompa air, dan tangga di sekitar kamar mandi. Pos ini dijaga oleh 3 siswa dan 1 guru. Hal ini bertujuan agar siswa yang berjaga di pos tersebut dapat memantau apakah pompa air berjalan dengan semestinya atau tidak, memastikan lantai di sekitar tangga dekat kamar mandi dalam kondisi kering agar saat keesokan harinya tidak terjadi hal-hal seperti siswa tergelincir pada saat menuruni atau menaiki tangga ketika Shubuh, dan juga dapat memastikan bahwa pasokan air minum tercukupi bagi seluruh siswa Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Darul Fikri Sidoarjo.

Untuk sistem kerjanya, setiap dua jam, siswa yang bertugas melakukan pergantian pos agar siswa-siswa tersebut memiliki pengalaman dalam mengatasi permasalahan yang berbeda-beda. Tujuan yang ingin dicapai dengan dibentuknya HIRO DAFI adalah menurunnya tindak pelanggaran siswa yang dilakukan bersama-sama ataupun individual pada saat Sabtu malam. Petugas HIRO DAFI terdiri dari sepuluh siswa MAIT Darul Fikri beserta empat guru dan disesuaikan dengan jadwal perkelasnya. Jadi, pada saat siswa kelas X bertugas malam itu, maka siswa-siswa tersebut akan dibagi ke pos-pos yang telah ditentukan. Setelah itu mereka akan berkeliling pondok untuk mengecek apakah ada alat-alat yang rusak ataupun ada siswa yang melanggar. Alasan mengapa guru juga dilibatkan dalam program HIRO DAFI adalah apabila ada santri yang tertangkap basah melakukan pelanggaran, maka guru tersebut yang akan menentukan sanksi apa yang akan diberikan kepada pelanggar. Selain itu, dengan komposisi HIRO DAFI seperti itu, dapat meningkatkan kedekatan hubungan antara siswa dengan guru yang bertugas. Kegiatan HIRO DAFI ditutup dengan kegiatan membangunkan siswa untuk sholat tahajjud dan sholat Shubuh berjama’ah.

Program HIRO DAFI telah diterapkan di Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Darul Fikri Sidoarjo semenjak pertengahan bulan Januari atau lebih tepatnya 17 Januari 2019. Seiring berjalannya waktu, progam HIRO DAFI memberikan banyak dampak positif bagi siswa maupun guru. Menurut laporan data kepala kesantrian PPTQ Darul Fikri Sidoarjo, tindak pelanggaran santri menurun secara signifikan, yang awalnya pelanggaran di Sabtu malam mencapai 83% menjadi hanya 5% pelanggaran saja. Selain itu, merujuk dari data Waka SarPras Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Darul Fikri Sidoarjo, sebanyak 95% dari jumlah sarana dan prasana yang di sediakan oleh pondok dapat bertahan (tidak rusak) selama lebih dari empat bulan, yang mana sebelumnya hanya bertahan paling lama dua hingga tiga bulan saja diakibatkan oleh aksi perusakan atau kelalaian oleh beberapa oknum siswa. Hal lain yang menjadi dampak dari program HIRO DAFI adalah hubungan komunikasi antara guru dengan siswa menjadi lebih baik. Pada saat berjaga, siswa yang bertugas memiliki kesempatan untuk berbagi keluh kesah mengenai hal-hal apa saja yang terjadi di pondok. Mulai dari alergi makanan, air yang sering tidak mengalir, hingga kasus berat sekalipun. Lalu dengan adanya komunikasi tersebut, guru-guru dapat mengetahui keluh kesah siswa selama di pondok dan hal tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk kemajuan pondok kedepannya.

Penerapan program K3 (keselamatan, dan kesehatan kerja) memiliki tiga tujuan dalam pelaksanaannya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1970 tentang keselamata kerja, tiga tujuan utama penerapan program K3 antara lain adalah melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja, menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efesien, serta miningkatkan kesejahteraan dan produktivitas nasional. Oleh karena itu, dengan adanya program HIRO DAFI, siswa belajar bagaimana cara menerapkan program K3 dalam lingkungan pondok pesantren. Hal tersebut dibuktikan dari bagaiman cara siswa yang bertugas dapat menjaga keselamatan serta kesehatan siswa-siswa lainnya dari hal-hal seperti tergelincir di lantai yang licin, tidak terjadi bullying baik secara verbal ataupun non-verbal di kalangan siswa, dehidrasi dikarenakan kurangnya pasokan air mineral, persebaran penyakit, dan keamanan siswa dari segala pengaruh luar yang ada di luar pondok.

Selain keselamatan dan kesehatan, siswa yang bertugas pun dapat menjalin komunikasi yang lebih baik antara siswa dengan guru melalui diskusi di sela-sela waktu berjaga. Hal tersebut berdampak pada ukhuwah islamiyah antara sesama siswa yang berjaga maupun antara siswa dengan guru. Secara bahasa, ukhuwah Islamiyah berarti persaudaraan islam. Menurut Hisyam (2018) secara istilah ukhuwah islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang dapat menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan,  dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah. Dengan berukhuwah akan timbul sikap saling tolong menolong, saling pengertian, serta tidak menzhalimi harta maupun kehormatan orang lain yang semua itu muncul karena Allah Semata. Sementara itu, di dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman dalam surat Al-Imran ayat 103 yang artinya “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadikanlah kamu orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Jadi, program HIRO DAFI selain mengajarkan tentang pentingnya K3 dalam lingkungan pondok pesantren, juga memberi manfaat spiritual yang mana hal tersebut akan sangat dibutuhkan era krisis moral saat ini. Hal-hal di atas membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya didapat di dalam kelas, melainkan juga di luar kelas. Dengan memberi pendidikan K3 sejak dini, diharapkan siswa dapat lebih paham pentingnya keselamatan serta kesehatan lingkungan di sekitar mereka. Sehingga kedepannya, siswa dapat lebih perhatian dengan keadaan lingkungan sosial yang akan mereka tinggali.

*Essay ini merupakan juara 1 lomba Essay Tingkat Provinsi dalam ajang Safety Competition di PPNS Surabaya 2 Februari 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here